4 Alasan Kenapa Kita Harus Cinta pada Buya Hamka

Mungkin kalian ingat Buya Hamka sebagai penulis buku dengan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck-nya. Eits ternyata pak Buya Hamka atau nama panjangnya Prof. Dr. Syaikh Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah, memiliki segudang bidang sebagai sarana jalur dakwahnya. Keren banget kan? Yuk kita intip apa saja sih yang bikin kita klepek- klepek sambil memberikan high appraisal sama Buya Hamka.

 

1. Beliau adalah Sastrawan Sejati

sastrawan

Buya Hamka menghasilkan berbagai macam judul sastra, diantaranya yakni Di bawah Lindungan Ka’bah, Merantau ke Deli, Mati Mengandung Malu, Terusir, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Empat Bulan di Amerika, Mengembara di Lembah Nil, Ayah, dan sebagainya. Beliau termasuk dalam angkatan Pujangga Baru, sepertu HB Jassin. Kelihaiannya terlihat saat menggabungkan ilmu tasawuf dan filsafat dalam bentuk kesusastraan seperti Tasawuf Modern, Filsafat Hidup, Lembaga Hidup, dan Lembaga Budi.

 

2. Beliau adalah Politisi Sejati

politisi

Pada tahun 1925, beliau menjadi Anggota Partai Sarekat Islam serta salah satu pendiri Muhammadiyah. Sehingga pada tahun 1931, beliau menjadi Konsultan Muhammadiyah di Makassar. Saat perang revolusi, Hamka turut serta mengobarkan semangat untuk menentang kembalinya Belanda di Indonesia. Setelah perang kemerdekaan usai, Hamka menjadi Ketua Majelis Muhammadiyah Sumatera Barat.

Di tahun 1947, beliau menjabat sebagai Ketua Barisan Pertahanan Nasional dan Sekretaris Front Pertahanan Nasional.  Pada zaman Orde Baru, beliau mengemban beberapa amanah seperti Anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional hingga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) di tahun 1977

 

3. Beliau adalah Jurnalis sejati

jurnalis

Beliau menjadi editor dan pimpinan majalah Pedoman Masyarakat, Kemajuan Masyarakat, Al-Mahdi, dan Panji Mas. Beliau juga pernah menjadi wartawan di berbagai surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah.

 

4. Beliau adalah Pendidik Sejati

pendidik

Karya beliau yang sangat indah yakni Tafsir Al-Azhar, merupakan tafsir pertama kali di Indonesia yang memiliki kelengkapan dalam menafsirkan Al-Qur’an. Semasa muda, beliau pernah mendirikan Sekolah Tarbiyatul Muballighin. Beliau juga mengajar kuliah lewat Radio Repulik Indonesia (RRI) selama lebih dari sepuluh tahun. Hingga saat ini, banyak tempat sekolah yang eksis seperti Sekolah Al-Azhar karena beliau sebagai pelopor pendirinya.

Selanjutnya, pada tahun 1957 beliau mengajar di Universitas Islam Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Padang Panjang. Beliau juga menjadi rektor di Perguruan Tinggi Islam Jakarta, bahkan menjadi guru besar di Universitas Moestopo dan Universitas Islam Indonesia.

Pengaruh beliau ini mendapat apresiasi yang sangat baik hingga mancanegara. Sampai saat ini banyak orang dari dalam maupun luar negeri yang mempelajari dan menerbitkan ulang buku-buku karya beliau. Mereka menjadikannya sebagai bahan rujukan tesis dalam berbagai bahasa Melayu, Arab dan Inggris. Beliau mendapat gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Al-Azhar, Cairo pada tahun 1958 dan gelar yang sama oleh Universitas Kebangsaan Malaysia tahun 1974 karena kontribusinya dalam menjalankan dakwah di Indonesia.


 

Dari uraian ringkas diatas, beliau dapat menggunakan segala kemampuannya sebagai alat untuk menjalankan dakwah, Subhanallah. Yuk kita mengambil hikmah yang didapat dari salah satu suri tauladan Indonesia, Buya Hamka.

Ulama Indonesia, pasti Mantep!!

Artikel Mantep Lainnya

TInggalkan Komentar Mantepmu!